12 Juli 2026 - 17:31
Prosesi Pemakaman Pemimpin Syahid adalah Kemenangan Front Kebenaran dalam Opini Publik Dunia dan Kekalahan Arogansi

Sayyid Sadruddin Qabanchi, Imam Jumat Najaf Asyraf, dalam khutbah salat Jumat, dengan merujuk pada prosesi pemakaman megah jenazah Pemimpin Syahid Revolusi Islam di Irak dan Iran, menyebut peristiwa ini sebagai kemenangan front kebenaran di tingkat opini publik dunia dan kekalahan bagi arogansi global. Ia menegaskan bahwa prosesi pemakaman ini bukan sekadar upacara penguburan, melainkan pembaruan baiat, pernyataan sikap keagamaan dan politik, serta pesan persatuan bangsa-bangsa tertindas dalam menghadapi arogansi global.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait  — ABNA — Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Sadruddin Qabanchi, Imam Jumat Najaf Asyraf, dalam khutbah salat Jumat yang ia sampaikan di Husainiyah Agung Fatimiyah Najaf Asyraf, menganalisis dimensi politik dan sosial prosesi pemakaman jenazah Pemimpin Syahid Revolusi Islam.

Imam Jumat Najaf Asyraf berkata: Bagaimana prosesi pemakaman jenazah Sayyid Wali, Syahid Imam Khamenei, di Irak dan Iran berubah menjadi sebuah peristiwa politik di tingkat Irak, Iran, dan dunia? Front kebenaran meraih kemenangan di tingkat opini publik dunia dan arogansi global mengalami kekalahan. Prosesi pemakaman ini bukan sekadar upacara penguburan, melainkan pembaruan baiat, janji, dan ikatan; bukan sekadar prosesi jenazah, melainkan pernyataan sikap keagamaan dan politik; bukan sekadar prosesi jenazah, melainkan ekspresi identitas; bukan sekadar prosesi jenazah, melainkan pesan persatuan bangsa-bangsa tertindas dalam menghadapi arogansi global.

Ia menambahkan: Perkiraan menunjukkan bahwa antara 8 hingga 10 juta orang hadir di Najaf Asyraf dan Karbala. Di sini, kami harus berterima kasih kepada bangsa Irak yang setia dan berkata kepada bangsa kami: kalian telah membuat kami bangga; semoga Allah meninggikan derajat kalian di dunia dan akhirat. Kami juga harus berterima kasih kepada aparat keamanan dan pemerintah, haram-haram suci, serta hauzah ilmiah. Irak sedang menggambar peta jalan baru untuk masa depan, dan pertaruhan atas dominasi kecenderungan nasionalis atas kecenderungan religius telah gagal.

Imam Jumat Najaf Asyraf, mengenai persoalan internal Irak, berkata: Kampanye Fajr dan pengungkapan berkas-berkas korupsi disambut dengan optimisme dan pandangan positif oleh bangsa Irak. Namun hari ini muncul sebuah rancangan mengenai pengampunan bagi para pencuri sebagai imbalan atas pengembalian harta yang dicuri. Kami meyakini bahwa proyek ini berarti mendorong terjadinya pencurian kembali. Lembaga peradilan harus bersikap adil dan tegas dalam mengaudit para pencuri ini. Penanganan situasi ini harus jauh dari dikte dan tekanan internal maupun tekanan negara-negara tetangga. Semua pihak harus tunduk pada proyek “Kampanye Fajr”. Saya memperingatkan agar kampanye ini tidak dipolitisasi.

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Sadruddin Qabanchi, mengenai isu-isu internasional, berkata: Genderang perang antara Iran dan Amerika kembali terdengar. Amerika telah membuktikan kekalahan global, militer, dan internalnya, sementara Iran telah membuktikan kekuatan militer, politik, dan kerakyatannya. Bangsa Iran hari ini meneriakkan slogan “pembalasan”, dan telah dikeluarkan fatwa-fatwa yang menyatakan darah para pembunuh “Sayyid Wali” sebagai darah yang halal ditumpahkan. Bangsa Iran hari ini menempatkan dunia di hadapan sebuah skenario baru, yaitu bahwa “pembunuh tidak akan lolos dari cengkeraman keadilan”.

Khatib Jumat Najaf Asyraf, dalam khutbah keagamaannya setelah berwasiat untuk bertakwa, berkata: Kita membaca bagian-bagian dari doa Imam Zainul Abidin a.s. pada peringatan kesyahidan beliau pada 25 Muharram tahun 93 Hijriah, yaitu doa yang dikenal sebagai “Doa Makarim al-Akhlaq”. Imam Sajjad a.s. menyebutkan 20 sifat bagi orang-orang saleh: menyebarkan keadilan, menahan amarah, memadamkan api fitnah, menyatukan orang-orang yang tercerai-berai, mendamaikan manusia, menampakkan kebaikan-kebaikan, menutupi aib-aib, bersikap lembut, rendah hati, berperilaku baik, tenang dan berwibawa, berakhlak mulia, mendahului dalam keutamaan, mengutamakan pemberian, meninggalkan pencarian kesalahan orang lain, berbuat baik kepada orang yang tidak layak menerimanya, berbicara benar meskipun berat, diam dari kebatilan meskipun menguntungkan, menganggap kecil kebaikan meskipun banyak, dan menganggap besar keburukan meskipun sedikit.

Ia dalam bagian lain berkata: Pada peringatan penghancuran kubah Haram Imamain Askariyain a.s. pada 22 Februari 2006, di Samarra — yang merupakan sebuah langkah untuk menyeret bangsa Irak ke dalam perang sektarian — kami memuji sikap marjaiyah agama tertinggi Irak yang menyerukan pengendalian diri dan tidak melakukan reaksi balasan yang dapat menyebabkan pertumpahan darah. Hal ini menegaskan bahwa jalan kita dalam menghadapi tantangan adalah menggunakan rasionalitas bersama emosi.

Your Comment

You are replying to: .
captcha